Pilih Laman
Cuaca sangat terik siang itu, beberapa petani di Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, Banyumas terlihat berteduh dibawah rindangnya pohon yang berada dipinggiran sawahnya. Sebagian lainnya sibuk melakukan beraktifitas disawahnya yang baru memasuki masa musim tanam.

Selama puluhan tahun petani jauh dari kesejahteraan. Apalagi para petani menggarap sawah tadah hujan yang hanya bisa dipanen dalam waktu setahun sekali, petani pun tidak pernah mendapatkan keuntungan besar dari hasil panen mereka. Namun dalam dua tahun terakhir kehidupan petani mulai terangkat setelah Kades Wlahar Wetan, Dodit Prasetyo mengubah cara bertani mereka ke pola pertanian organik dan mewujudkan mimpi menjadi desa mandiri pangan organik.

Di tahun 2016, melalui dana desa sebesar Rp 80 juta, dia ubah semua mimpi tersebut menjadi kenyataan. Sebanyak 8 orang praktisi pertanian dari jaringan organik di Indonesia dia hadirkan ke desanya untuk memberikan pelatihan selama tiga bulan kepada 70 orang petani. Bahkan akibat penggunaan dana desa yang sangat besar tersebut untuk pelatihan, dirinya hampir saja di coret dari Kecamatan setempat karena dianggap tidak wajar dalam penggunaan dana pelatihan.
“Rp 80 juta dari total dana desa di 2016 sekitar Rp 600 juta dan kami sempat mau dicoret dari Kecamatan karena dianggap kegiatan pelatihan sosialisasi paling full 1 hari Rp 3 juta. Kita gak, kami tidak mau kayak begitu, kami inginya selesaikan satu tahap ini biar kami jangka panjangnya jelas. Mungkin memang satu-satunya di Kabupaten Banyumas pelatihan yang paling besar, Rp 80 juta dalam satu musim, 3 bulan latihan, sekolah tiap hari,” kata Dodit.

Kades Wlahar Wetan, Dodit Prasetyo

Dia bercerita, saat itu banyak lahan pertanian yang rusak akibat metode penanaman padi konvensional yang menggunakan bahan kimia, hingga lahan pertanian di desanya mencapai titik jenuh akibat oenggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Maka dari itu, dengan dia mengadakan pelatihan selama tiga bulan tersebut untuk melihat seberapa parah kerusakan lahan pertanian di desanya, sekaligus mengubah mandset para petani tentang penggunaan pupuk kimia.
“Jadi mereka (petani) terbuka maindset dengan pelatihan, tahu sejauh mana kerusakan-kerusakan yang harus ditangani jangka panjang. Makanya kalau ada pupuk langka, subsudinya sulit, kita sudah santai-santai saja, karena petani sudah terbangun bahwa tidak usah ketergantungan,” jelasnya.
Setiap harinya saat pelatihan tersebut, mulai pagi hari para patani sudah dibawa ke lapangan untuk mengecek terdapat hama apa saja yang terdapat di sawah, kemudian ditulis dan dianalisis. Pada malam harinya didiskusikan terkait hama apa saja yang ditemukan, lalu predator apa yang dapat memakan jenis hama tersebut full selama tiga bulan. Hingga dari 70 petani menyusut hingga 12 petani saja yang mengikuti pelatihan.
“Makanya dari 70 petani menyusut menjadi 12 petani, mungkin dengan energi lelah tapi buat kami namanya sebuah proses dan memang harus dijalankan terus. Mau tidak mau walapun petani sudah tua tapi itu harus dimasukin (dilatih) dan rata-rata petani sini sekarang sudah tahu dan sudah paham,” ujarnya.
Untuk menjalankan proses organik tersebut usai pelatihan, dirinya mengaku mengintervensi seluruh lahan pertanian yang ada di desa untuk menggunakan pupuk kandang. Selain untuk memperbaiki lahan pertanian yang rusak akibat pengguaan pupuk kimia. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk menyadarkan para petani jika memang ingin berubah.
“Kami ada kandang komunal (kandang domba) yang itu memang untuk mengintervensi seluruh lahan pertanian di desa, karena kalau kita nunggu petani untuk mengunakan pupuk kandang akan sangat lama. Makanya kita sebarin saja pakai truk dan urug-urug semua. Pokoknya harus diintervensi, kita pemerintah memang harus ambil alih itu biar proses reklamasi kesuburan ini tepat,” ujarnya.

Selain berupaya memperbaiki lahan pertanian dari pengaruh pupuk kimia, pihaknya juga berupaya untuk dapat mandiri benih agar tidak bergantung dengan satu jenis varietas. Benih yang dipilih merupakan benih lokal jenis mimitik susu dan saat ini penggunaan bibit lokal sudah berjalan sekitar 10-15 persen dari luasan lahan sawah di desa tersebut yang mencapai 150 hektare, dia berharap maindset kemandirian benih pun ikut berjalan.
Hasil panen pada tahun pertama tahun 2016 baru sekitar 4 ton per hektare dan panen kedua sudah naik sekitar setengah ton perhektare pertahun. Itu saat masih menggunakan tanah desa untuk percontohan, tapi saat ini sudah terdapat sekitar 15 hektare yang meruoakan tanah pemilik sawah. Petani mendpatkan nilai ekonomis yang lebih, karena hasil panen meraka dijual dengan harga yang tinggi “Dulu dicemooh, tapi sekarang sudah tidak pakai tanah desa lagi, sudah (sawah) pemilik-pemilik,” katanya.
Beras organik yang ditanam petani Desa Wlahar menggunakan bibit mimitik susu ini bisa dijual dengan harga mencapai Rp 25 ribu per kilogram. Berbeda dengan beras biasa yang hanya berkisar Rp 8 ribu per kilogram. Bahkan ditahun 2017, Dodit menganggarkan Rp 35 juta dari dana desa untuk pembelian mesin pembersih beras, mesin press dan kemasan beras. Hasilnya pemasaran beras organiknya semakin luas, karena telah menggunakan kemasan yang baik dan ditanganii secara profesional oleh BUMDes.
“Ternyata berefek, padahal awalnya untuk makan sehat dikeluarga sebenaranya, bukan untuk dijual. Tapi dalam konteksnya karena peluang hidup sosialita di kota mau beras sehat itu mahal akhirnya banyak petani yang menjual beras organik itu. Tapi kami juga berfikir apakah sudah terpenuhi semuanya yang sehat di desa karena yang sedang kita kampanyekan jaga dulu ketahanan disini, sebab petani hanya bisa menanam padi setahun sekali” ujarnya.
Sementara menurut Nardan Wahyudi (46) petani dari kelompok tani Eka Karya 1 mengatakan jika proses penanaman pola organik sangat menguntungkan para petani, selain berasnya bagus, harga jualnya juga lebih tinggi dibandingkan beras konvensional. Bahkan proses pemeliharaannya juag tidak sulit dan menekan pengeluaran untuk membeli pupuk urea, karena cukup menggunakan pupuk kandang sebagai media menyuburan tanah dan pupuk organik cair buatan sendiri dari tetes tebu, air kelapa dan bonggol pisang sebagai media untuk penyemprotan.
“Kita gunakan pupuk kandang dan organiknya buat sendiri dari organik carir, Saya buat sendiri dari bonggol pisang, tetes tebu dan air kelapa itu untuk nyemprot. Dulu (saat pola tanam konvsnional) sekali musim untuk Rp 400-500 ribu keluar untuk beli pupuk urea dan lain lain. Kalau sekarang paling cuma beli tetes tebu saja sekilo Rp 10 ribu, dan yang lainnya tinggal cari sendiri di kebun seperti bonggol pisang. Untuk pupuk kandangnya saya puya asendiri dirumah,” kata Nardan.
Dia mengatakan jika memang proses penanaman organik leboh lama, karena memang tidak dapat dipacu cepat seperti konvensional. Untuk masa panennya sendiri padi organik membutuhkan waktu 105 hari, sedangkan padi konvensional antara 95-100 hari. Namun dari segi ketahanan terhadap hama, dia juga mengatakan jika padi organik lebih tahan terhadap hama.
“Panen antara organik dan konvensional memang tidak seberapa waktunya, tapi kalau dari segi ketahanan terhadap hama itu organik lebih tahan, karena tidak dipacu leboh tinggi sehingga tahan terhadap wereng. Walaupun sama – sama terkena hama, antara padi konvensional dan organik, tapi dia lebih tahan (organik),” jelasnya.
Nardan sendiri saat ini mempunyai lahan sekitar 1 hektare dan dapat panen kurang lebihnya 5 ton, sama seperti hasil panen saat menggunakan padi konvensional, perbedaaannya hanya lebioh sehat dan harga jual mahal. Biasanya dia menjual beras organiknya tersebut melalui komunitas organik yang memang meminta berasnya.
“Bedanya niai beras lebih mahal dibanding konvensional. Kalau saya jual langsung ke konsumen itu Rp15 ribu per kilogram, kalau yang konvensional paling ngikutin harga pasaran. Untuk penjualan ada pelanggan yang tergabung komunitas aliansi organik, sehingga ketika ada permintaan saya akan kirim beras organik,” ujar dia yang mulai saat ini sudah banyak petani mulai mengurangi penggunaan pupuk pupuk urea dan beralih ke pertanian organik.