Pilih Laman

Banyumas – Peningkatan kesejahteraan masyarakat terus dilakukan Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah. Salah satunya bekerjasama dengan Baznas Zakat Camonity Development dalam pengadaan sarana kandang domba dengan sasaran para Mustahik.

Jajaran direksi Tirtamas Agri Mandiri yang fokus pada pemberdayaan masyarakat Desa berkesempatan mengunjungi kandang domba yang dibuat ditanah Desa dan dapat menampung sekitar 200 ekor domba dari berbagai jenis.

Sistem pemberdayaan yang sangat menarik, dimana domba domba yang sebagian merupakan milik masyarakat ini akan digemukkan dan akan dibeli kembali oleh Baznas untuk aksi tanggap darurat bencana.

“Program yang diinisiasi oleh Baznas kepada mustahik yang tidak mampu untuk melakukan pemberdayaan ekonomi mereka melalui kelompok domba. Ini sangat bagus karena disumbang berupa kandang dan domba yang kualitasnya bagus untuk penggemukan,” kata Agus Santoso, Pembina Peternak Kambing dan Domba Indonesia yang juga mantan Wakil Kepala PPATK beberapa waktu yang lalu di Desa Wlahar Wetan.

Dia mengatakan jika, dalam pengembangan koandang domba tersebut harus selalu dilakukan pendampingan. Hal tersebut agar kualitas domba menjadi bagus. “Untuk pengadaan selanjutnya dilakukan oleh kelompok dan jejaringnya para peternak, tapi yang kualitasnya bagus, jangan sampai nantinya domba yang sampai di kelompok itu kemudian kurang bagus, makanya harus ada pendampingan, kalau tidak timbangannya tidak akan naik,” jelasnya.

Bukan hanya itu, kandang komunal tersebut juga memiliki manfaat lain bagi pertanian yang ada di Desa Wlahar Wetan. Salah satunya pertanian organik, dimana hasil dari kotoran domba tersebut dimanfaatkan untuk pengelolaan lahan pertanian organik.

“Ini sangat menarik, karena kotorannya kemudian juga dimanfaatkan. Saya kira ini suatu yang bagus lagi, karena kotoran kambing digunakan sebagai pertanian organik, secara gratis dan dapat menolong kelompok yang lain serta tidak membutuhkan pupuk,” jelasnya.

Sementara menurut Kepala Desa Wlahar Wetan, Dodit Prasetyo mengatakan jika sistem pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan nilai zakat sedikit membuka mata masyarakat. Dimana dahulu masyarakat hanya mengejar nilai bantuan secara instan.

“Diberdayakan dengan nilai zakat mereka sudah mulai tergerak, proses pemberdayaan ilmu dimasyarakat itu yang memang kami cari, kalau nilai dan harga itu kami tidak, tapi ilmu, bagi mereka kadang sulit menerima ilmu, kadangkala kami bingung bagaimana caranya mensejakhetrakan mereka, maunya selalu instan,” jelasnya.

Maka dari itu, dirinya telah berkomitment untuk menyediakan tanah desa untuk kesejahteraan masyakarat melalui sistem pertanian terpadu.

“Kita sinergi dengan pertanian terpadu dan mereka jadi fasilitator juga. Ditanah desa, kita sudah komitmen denagan Baznas akan menyediakan tanah zona ekonomi ekslusiuf untuk masyarakatnya dikelola mereka (masyarakat) hanya bayar sewa semampunya yang peting tanah kita termanfaatkan dan bersebelahan langsung dengan lahan pertanian karena kita butuh untuk pertanian terpadunya,” ujarnya. (ARB)